Selasa, 27 November 2018

Bahagia Hingga Tua


"Pak, coba ke sini. Ada paket dari Sonny," tanganku yang mulai gemetar karena termakan usia mengulurkan sebuah bungkusan ke arah suamiku. Suamiku melipat koran yang sedang dibacanya, bangkit dari duduknya dan perlahan-lahan menghampiriku.

Diterimanya paket tersebut, dan menyobek bungkusnya. Kami kemudian tersenyum bersama setelah mengetahui isinya. Kumpulan foto-foto kami sekeluarga pada saat lebaran kemarin. Suamiku kemudian menggandeng tanganku, kami berjalan menuju teras, dan duduk di kursi.

Kubukai foto-foto tersebut. Sebagian besar adalah hasil jepretan Niken, menantuku. Hasilnya sangat bagus, wanita berhijab nan baik hati ini sangat pandai mengambil momen untuk fotonya. Ada foto saat suamiku dan Sonny, anak kami satu-satunya, sedang bercanda. Sinar mata penuh cinta terlihat jelas di bola mata kedua arjunaku ini. Ada momen di saat aku dan suami sedang bercanda dengan ketiga cucuku, bahagia sekali.

Sebuah foto yang menjadi favoritku ada di situ. Aku sedang tersenyum sambil memandangi suamiku yang membantuku membuat lontong. Aku ingat, tangan-tangannya yang juga mulai gemetar tak lelah mengisi beras ke dalam daun pisang.

Setelah selesai melihat semua foto itu, aku menemukan sepucuk surat di antaranya. Surat dari Niken.
"Bapak dan ibu tersayang, foto-foto ini indah sekali. Saya tidak bosan-bosan melihatnya, apalagi foto di saat ibu sedang tersenyum sambil memandangi bapak yang membuat lontong. Ini foto favorit saya. Foto ini mengingatkan betapa beruntungnya saya mempunyai mertua yang saling mengasihi, dan akhirnya kasih sayang itu diturunkan kepada mas Sonny. Terima kasih karena telah memberikan suasana penuh cinta kasih pada kami sekeluarga. Doakan agar kami tetap saling mengasihi sampai maut memisahkan.
Hormat saya, Niken."

Aku dan suamiku saling bertatapan dan tersenyum. Sambil menggandeng tanganku, dia mengajakku masuk ke dalam rumah. Doa yang sama aku panjatkan untuk kami, semoga kami tetap saling mengasihi sampai maut memisahkan.

#ODOP_6
#onedayonepost
#kelasfiksi

Judi


"Abangmu belum ke sini, Dek?"
"Belum. Mungkin sekalian mau habisin jualannya, Bu. "
"Kita pulang sajalah, ibu capek. Hasil jualan kita selama dua hari di pasar malam ini sudah lumayan kok. Kamu bantuin bapak beres-beres ya? Ibu mau cari abangmu."

Aku mulai mencari anakku yang tertua. Setiap ada kegiatan pasar malam di kampung sekitar,  kami selalu ikut berjualan dan berbagi tugas. Aku berjualan di stand, anak tertuaku berkeliling menjajakan dagangan kami.
"Nah, itu dia." Aku melihat anakku sedang berjongkok di antara kerumunan orang. Di depannya ada sebuah meja yang di atasnya terletak tiga buah mangkok dalam posisi tertelungkup.

Aku segera menghampirinya. "Ayo Bang, kita pulang."
"Sebentar, Bu. Aku lagi main tebak-tebakan. Tadi sudah bayar dua ribu rupiah."
"Mainnya gimana itu, Bang?"
"Tiga buah mangkok itu dipindah-pindahin tempatnya. Terus aku disuruh nebak, mangkok mana yang ada bola bekelnya. Sebelum nebak, aku bayar dua ribu rupiah, Bu. Kalau tebakanku benar, aku dapat tiga ribu rupiah. Tadi aku menang sekali. Terus aku main lagi tiga kali, eh salah. Ini aku mau nyoba yang ke empat kali, Bu."

"Astaghfirullah, Bang. Itu namanya judi. Haram Bang, gak boleh. Kamu menang sekali, tapi kalah tiga kali. Bukannya untung, malah buntung. Judi itu gak bikin kita banyak uang, Nak. Tapi malah bikin sengsara. Ayo pulang, jangan diteruskan lagi. Bisa habis uang jualanmu kalau kamu di sini terus." Aku menarik tangan anakku dan segera berlalu dari tempat itu.

#ODOP_6
#onedayonepost
#kelasfiksi

Sabtu, 24 November 2018

Kekasih Rahasia



"Kau masih mau memaafkanku, Sinta? Walaupun aku telah membuat hatimu terluka karena ulahku?"

"Hati ini sudah menjadi milikmu, Mas. Walaupun berpuluh-puluh luka sudah kau torehkan di atasnya, tapi aku akan tetap memaafkanmu. Engkau adalah kekasihku, cinta sejati dalam hidupku. Aku tidak akan sanggup bila hidup tanpamu."

Sandi menatap Sinta dengan tatapan tidak percaya. Terbuat dari apa hati gadis ini? Betapa tulus cintanya kepadaku sehingga semudah itu dia memaafkanku. Seandainya dia yang menjadi isteriku, dan bukan Dewi, tentu aku akan menjadi lelaki paling beruntung di dunia. Sebenarnya aku berniat untuk menceraikan Dewi dan menikahi Sinta. Tapi belum sempat kuutarakan niat itu, Dewi memberiku kabar gembira. Dia hamil, kami akan segera punya anak. Aku tahu hati Sinta sangat terluka ketika kuberitahukan kabar ini dua minggu yang lalu. Bahwa akhirnya aku tidak mungkin menceraikan Dewi.

Sinta tersenyum, dia seolah mengerti arti tatapan Sandi. "Aku rela menjadi kekasih rahasiamu asalkan kita dapat terus bersama. Bisa bertemu denganmu setiap hari saja aku sudah sangat bahagia. Sekarang pulanglah, rawat isterimu. Aku sudah memasak bubur ayam kesukaanmu. Makanlah bersama-sama dengan isterimu. Dia harus makan yang banyak dan bergizi bukan?" Sinta mengangsurkan rantang berisi bubur ayam ke arah Sandi, dan mengantarnya sampai pintu gerbang.

Setelah Sandi menghilang dari pandangan, Sinta masuk ke dalam kamar, mengambil koper yang sudah disiapkannya, dan memesan taksi online. Tujuannya:bandara. Sambil mengunci pintu rumah, Sinta tersenyum. "Dasar lelaki goblok, kau pikir aku sudi terus-terusan dijadikan pelarianmu? Nikmatilah bubur ayam terakhirmu bersama isteri dan calon anakmu, dan berkumpullah kalian di alam baka."

Taksi online tiba. Sebelum masuk ke dalam mobil, Sinta mencopot kartu SIM gawainya, merusak dan membuangnya ke saluran air. Bersamanya, dibuang juga bungkus bekas racun tikus yang tadi telah dicampurkan ke dalam bubur ayam. Bungkus itu hanyut menuju sungai bersama kotoran lainnya.

#OneDayOnePost
#KelasFiksiODOP_6

Review Novel "Laskar Pelangi"

Kelas ODOP memberikan tugas melakukan review buku fiksi yang dibaca minggu ini. Saya memilih novel "Laskar Pelangi" karangan Andrea Hirata untuk direview, karena saya selama ini hanya menonton filmnya, dan memang belum pernah membaca novelnya.

Novel ini menceritakan persahabatan 10 orang anak dengan latar belakang berasal dari keluarga miskin di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Walaupun begitu mereka selalu semangat belajar di sekolah.

Masing-masing tokoh memiliki karakter yang digambarkan dengan baik dalam novel ini. Ada Lintang, pemuda dengan kecerdasan di atas rata-rata, tapi mengalami nasib yang kurang baik karena harus putus sekolah sebelum sempat lulus SD. Ada Mahar, tokoh yang jenius luar biasa di bidang seni. Dan tokoh lain yang tak kalah kuat karakternya, Ibu Guru Muslimah, seorang guru yang sangat sabar dalam mendidik mereka, serta bapak Kepala Sekolah bernama Harfan  yang tegas dan sabar.

Setting yang digunakan tergambar dengan jelas di novel ini. Bahkan suasana kemiskinan pun jelas terbaca dari kondisi gedung sekolah yang mulai bobrok, masyarakat yang terkesan miskin, dan kesulitan orangtua mereka sebagai buruh penambang timah dan nelayan kecil.

Novel ini mempunyai kelebihan yaitu menggunakan gaya bahasa yang menarik dan nyaman dibaca. Alur cerita mengalir dan dapat membawa emosi pembaca. Saya sempat menangis sewaktu membaca bagian di mana Lintang harus putus sekolah dan berpisah dari teman-temannya karena harus bekerja menghidupi keluarganya setelah kematian bapaknya.

Novel ini memberikan banyak pelajaran yang perlu diteladani. Rajin bekerja, berusaha, semangat kekeluargaan, dan selalu bersyukur atas rahmat yang diberikan oleh Allah SWT.

#KelasFiksiODOP_6
#OneDayOnePost
#TantanganReviewBukuFiksi

Review Film "Pretty Woman"

Pretty Woman adalah sebuah film di era 1990, yang berkisah mengenai  percintaan antara seorang pengusaha tampan sukses yang bernama Edwar Lewis (Richard Gere) dengan seorang pelacur cantik  yang bernama Vivian (Julia Robert).

Edward Lewis adalah seorang pengusaha sukses yang terkenal berhati besi. Dia tidak pernah berhasil dalam urusan percintaan karena sikapnya yang dingin. Suatu hari dia bertemu dengan Vivi, seorang pelacur jalanan. Tertarik dengan kecantikannya, akhirnya Edward menyewa Vivian untuk mendampinginya selama seminggu dengan bayaran mahal dan tinggal di hotel berbintang dengan pelayanan eksklusif.

Vivian kemudian diubah dari wanita jalanan, menjadi wanita yang modis dan elegan. Tak lama benih-benih cintapun muncul di antara keduanya. Edward menemukan sisi kemanusiaannya sejak bersama dengan Vivian. Film ini berakhir dengan happy ending, di mana Edward menyatakan cintanya kepada Vivian.

Film ini sangat fenomenal di tahun 1990. Kisahnya yang laksana Cinderella sangat disukai oleh semua orang. Julia Robert dan Richard Gere bermain sangat baik di fim ini, ekspresi Vivian yang meluap-luap sangat kontras dibandingkan dengan Edward yang dingin dan terkesan jaim. Di sinilah kekuatan film ini. Setting yang digunakan juga sangat bagus. Apartemen Vivian yang sempit, kamar hotel yang mewah, butik-butik terkenal, hingga pertandingan polo yang megah yang mencerminkan kehidupan kelas atas.

Film ini bertema sederhana, tapi dikemas dalam bentuk cerita yang apik dan didukung oleh pemain-pemain handal, sehingga menjadikannya film yang wajib ditonton di masa itu.

#TugasReviewFilm
#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost


Jumat, 23 November 2018

Review Cerpen

Judul : Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil

Pengarang : Mashdar Zainal

Alur : mundur - maju
Setting : Laut

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang isteri yang kehilangan suaminya saat sang suami pergi melaut, di mana pada hari itu hanya perahu yang penuh dengan ikan saja yang kembali, sedangkan suaminya tak ditemukan.

Kepada anak lelakinya yang masih kecil, dia mengarang cerita bahwa sang ayah telah mengorbankan dirinya untuk dimakan ikan-ikan kecil, sebagai tanda terima kasihnya karena telah bertahun-tahun membantu perekonomian keluarganya.

Sang anak yang ingin seperti bapaknya, berlatih keras untuk bisa menangkap ikan. Usahanya berhasil, setiap pulang melaut, dia selalu membawa pulang ikan dengan jumlah yang sangat banyak.

Di usia ke tujuh belas, sama seperti bapaknya, sang anak hilang saat melaut. Hanya perahu yang penuh dengan hasil tangkapan saja yang pulang dengan selamat. Beberapa nelayan mengaku melihat anak ini mencelupkan tangannya ke dalan air laut dan ikan-ikan kecil mulai memakani tangannya.

Review :
Cerpen ini sangat enak dibaca, kaya akan diksi dan bahasanya sangat halus. Setting laut dan aktifitas nelayan juga dapat tergambar di sini.

Menurut saya, tokoh ibu dalam cerita sangat bijak. Dia menggambarkan sosok sang bapak sebagai orang yang baik, gigih dan tahu berterima kasih.

Sang anak pun tak kalah hebatnya. Perjuangan untuk menjadi nelayan hebat dilakukannya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya dia berakhir menjadi nelayan yang pandai melaut dan mencari ikan.

Pesan moral dari cerpen ini adalah bahwa semua orang bisa menjadi apapun yang dia inginkan asal terus belajar dan berusaha.

Saya kurang paham maksudnya lelaki yang tubuhnya habis dimakan ikan-ikan kecil. Apakah benar si anak menghilang karena mengorbankan dirinya untuk dimakan oleh ikan-ikan kecil? Atau ini hanya kiasan saja? Kalau kiasan, apakah arti yang sebenarnya?


#TugasReviewCerpen
#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost




Senin, 19 November 2018

Menua Bersama

Awal bersua
Tiada ajunku untuk melangkah bersama
Hanya hasrat untuk duduk berdua
Menelan indahnya swastamita
Senja kesumba sebelum gulita tiba

Sedasa bersama
Hati berkecamuk menolak nista
Pintamu menyentak relung jiwa
Menghapus dosa
Mari kita sehidup sesurga

Kini...
Atma serasa pupus gejolaknya
Kau dan aku sejiwa
Menepis mega
Hingga menua bersama

#ODOP_6
#onedayonepost
#KelasFiksi
#TantanganFiksiBebas

ELSYE

"Astaghfirullah, Elsye. Kenapa sih kalau datang pasti ngagetin? Lama-lama aku bisa mati kena serangan jantung, tau gak?" Aku baru masuk ke dalam kamar tidur, langsung meloncat karena kaget ketika kulihat sesosok wanita telah duduk di atas pembaringanku.

"Kaget? Maaf! Tapi jangan mati dulu, kamu belum selesai membantuku!" Gadis Belanda ini menyeringai ke arahku. Wajahnya semakin tampak mengerikan. Putih, pucat, di lehernya yang berlumuran darah tampak bekas luka gorokan akibat pedang milik tentara Jepang.

Elsye adalah hantu wanita Belanda yang akhir-akhir ini sering mendatangiku. Awalnya aku sangat ketakutan melihat kondisinya yang mengerikan. Tetapi sinar matanya yang mengandung kesedihan membuatku merasa iba. Aku sering melihat hantu, tapi hanya Elsye yang rutin berkomunikasi denganku. Dia memohon agar aku dapat menolong mencari keluarganya, dia ingin berkumpul bersama mereka.

Elsye bercerita sebelum Jepang datang, mereka adalah keluarga yang bahagia. Tahun 1943-1947, saat Jepang mendarat di Indonesia, adalah masa-masa yang paling kelam bagi orang Belanda yang tinggal maupun yang lahir di Hindia Belanda. Ribuan orang Belanda dimasukkan di dalam kamp, kekurangan makan, minum, dan terserang penyakit menular. Tentara Belanda dilucuti, disiksa, dan dibunuh.
Pada masa itu, banyak orang Belanda meninggal di dalam kamp, yang mencoba kabur dari kamp pun akhirnya meninggal ditembak.

Elsye termasuk salah satu tawanan kamp yang mencoba kabur. Di dalam kamp, dia tinggal terpisah dengan keluarganya. Dia berusaha mencari keliling kamp tapi tidak mampu menemukan mereka. Akhirnya dia berniat kabur agar dapat mencari perlindungan, dan mencari keluarganya. Malang tak dapat ditolak, tentara Jepang berhasil menangkapnya kembali. Elsye meninggal dengan cara digorok di depan tawanan kamp yang lain, sebagai peringatan kepada siapapun yang berani kabur.

Elsye meninggal sebagai hantu yang gentayangan. Keinginannya hanya satu, berkumpul lagi dengan keluarganya. Aku hanya sanggup mendoakan semoga dia bisa bertemu dengan keluarganya, entah bagaimana lagi caraku untuk menolongnya.

#ODOP_6
#onedayonepost
#KelasFiksi
#TantanganHistoricalFiction

Puteri Kipas


Candrawati menghembuskan nafasnya. Latihan hari ini sudah cukup, aku harus pulang sebelum ayah menyadari bahwa aku telah menghilang dari istana seharian. Disarungkannya pedang bersinar ungu miliknya dan menaiki Dhatu, unicorn kesayangannya. Sang kuda bersayap lalu mengepakkan sayapnya dan segera melesat ke angkasa, pulang menuju istana.

Sesampainya di istana, Candrawati segera menuju kamarnya yang luas. Usai membersihkan badan, dibaringkannya tubuhnya di peraduan. Latihan hari ini cukup melelahkan, aku akan istirahat sebentar hingga makan malam tiba. Matanya mulai terasa berat, dan sesaat kemudian dia mulai tertidur hingga makan malam hampir tiba.

Tiba-tiba....
"Hei, berhenti! Jangan lari!" Terdengar teriakan para pengawal di luar kamarnya. Candrawati terkejut, dia langsung terjaga dan duduk di pembaringan. Belum seratus persen sadar dari tidurnya, tiba-tiba ada seseorang membekap mulutnya. "Jangan bersuara, atau akan kulukai dirimu!"
Suara seorang wanita, Candrawati seperti pernah mendengar suara itu, tapi dia lupa di mana. Tanpa rasa takut puteri ini langsung bergerak cepat. Refleks dia menggigit tangan wanita itu. Si wanita merasa kesakitan, berteriak, dan langsung melepaskan bekapannya. Wanita penyusup itu menggunakan cadar di wajahnya, sehingga sang puteri tidak bisa mengenalinya.

Candrawati bergerak lincah. Dia segera melompat dari pembaringan dan meraih pedangnya. Si wanita pun segera mengambil senjata dari balik bajunya. Sebuah kipas besar. Mereka berdua mulai bertempur dengan gigihnya. Sinar ungu yang memancar dari pedang Candrawati bergerak sangat cepat, diiringi oleh suara kibasan angin yang ditimbulkan oleh kipas sang wanita.

Candrawati mulai kewalahan. Wanita ini hebat sekali, semua seranganku dapat dia patahkan. Aku pasti kalah karena kurang ilmu dan kehabisan tenaga. Tepat saat dia berpikir demikian, pintu kamarnya terbuka. Sang Raja, ayahnya, masuk bersama beberapa pengawal. "Cukup, hentikan Puteri Kipas!"

Sang wanita pun segera menghentikan serangannya. Candrawati, dengan nafas tersengal-sengal langsung jatuh terduduk di atas lantai. Dia bersyukur ayahnya datang bersama para pengawal. Tapi aneh, ayah memanggilnya sebagai Puteri Kipas. Berarti ayah mengenal wanita ini?

Puteri Kipas tertawa kecil dan berkata kepada ayahnya, "Mulai besok kau carikanlah guru bela diri yang terbaik untuknya. Dia punya bakat, tapi kurang latihan. Kalau sudah mahir, aku akan datang lagi untuk menantang dirinya." Wanita itu kemudian menoleh ke arah Candrawati sambil tertawa,"Maaf Candrawati, penyusupan ini hanya pura-pura. Ayahmu sudah tahu kamu selalu keluar istana untuk belajar ilmu bela diri, dan aku bersikeras untuk mengetes sampai di mana kemahiranmu. Aku sudah meminta ayahmu untuk mencarikan guru terbaik. Empat bulan lagi aku akan datang menemuimu, kita berduel lagi." Sang puteri pun melesat keluar dari kamarnya, meninggalkan Candrawati yang masih tertegun.

Sementara Candrawati masih bertanya-tanya siapakah wanita itu sebenarnya, Puteri Kipas sudah tiba di dalam kamarnya sendiri. Dilepaskannya cadar hitam miliknya, dan segera mengganti pakaian dan dandanannya. Dia harus beristirahat cukup karena besok bersama suaminya dia harus menyambut tamu dari kerajaan sahabat. Dia, Ratu Indraswari, permaisuri dari Raja Bhaskara. Ibunda dari puteri pemberani, Candrawati.

#ODOP_6
#KelasFiksi
#TantanganFantasyFiction

Selasa, 13 November 2018

Si Badut


"Nduk, bapak pinjam si Badut ya? Mau dijual, buat biaya berobat nenek. Nanti kalau sudah punya uang, bapak belikan kambing yang baru."

Aku hanya mengangguk lesu. Mataku tak putus memandang bapak yang berjalan menuju kandang si Badut, kambing kesayanganku. Bapak kemudian mengeluarkannya dari kandang dan menggiringnya menuju rumah pak Suryo, majikan baru Badut kelak.

Nenekku bekerja mengurus kambing-kambing milik pak Suryo. Ketika salah satu kambingnya beranak, pak Suryo memberikan anak kambing itu untuk nenek. Oleh nenek, anak kambing itu, yang kemudian kuberi nama Badut, diberikan kepadaku sebagai hadiah ulangtahun. Sekarang nenekku tersayang sedang terbaring sakit di tempat tidur. Tubuhnya kian hari kian kurus dan lemah. Bapak berencana membawanya ke dokter untuk memeriksakan penyakitnya.

Hatiku sedih kehilangan Badut, tapi walaupun begitu aku tidak merasa kecewa. Harapanku uang hasil penjualan Badut bisa digunakan untuk membiayai pengobatan nenekku tercinta.

#ODOP_6
#KelasFiksi
#TantanganDomesticDrama

Cuma Kamu



"Mas, mbak Endah datang. Katanya kalau mas ada waktu, dia ingin ketemuan." Yudi berkata pelan kepada Iwan, abangnya yang juga kekasihku, dengan maksud agar aku tidak dapat mendengar perkataannya.

Yang dikabari hanya diam saja. Endah? Bukankah itu nama kekasihnya waktu SMA? Mereka masih berhubungan? Hatiku mulai terbakar cemburu.

"Dik, sudah sore, aku antar pulang ya? Ibu sudah tidur kok. Kamu istirahat saja di rumah." Memang sesiangan ini aku ada di rumah kekasihku karena ibunya sedang sakit. Ibunya meminta tolong aku untuk menemaninya, karena di rumah mereka tidak ada perempuan lain.

Aku mulai curiga,"Kenapa kok nyuruh-nyuruh aku pulang? Kamu janjian sama orang lain ya?"
Dia diam saja. Aku semakin emosi,"Ayo ngaku! Kamu mau ketemu sama Endah kan? Mantan pacar SMA mu dulu? Kalian masih berhubungan ya?"

Yang dimarahi malah ketawa ngakak,"Kamu kalo marah-marah gitu mbok sambil lihat wajahmu di kaca. Wis matane sipit, melotot-melotot, ilang manise."

"Gak usah cemburu, aku sudah gak ada hubungan apa-apa sama Endah. Aku suruh kamu pulang biar bisa istirahat, mandi, dandan yang cantik. Nanti malam aku ajak jalan-jalan sambil beli soto Cak Tono. Aku ini sudah milih kamu jadi calon isteriku, ngapain juga aku masih lihat-lihat cewek lain?"

Duh, Mas Iwan....  Meleleh hatikuu...

#ODOP_6
#KelasFiksi
#TantanganSonglit
#KarnaSuSayang-NearfeatDianSorowea

Rabu, 07 November 2018

PERTEMUAN PERTAMA


Sudah sepuluh menit aku berada di stasiun ini. Hatiku berdebar-debar, perutku mulai merasa mulas menghitung menit per menit menjelang pertemuan kami nanti. Apa yang nanti akan kami bicarakan? Doni dan aku, kami tidak pernah berjumpa. Awal perkenalan kami hanya melalui media sosial, Doni mengaku mengetahui diriku lewat Siska, teman kuliahku. Setelah hanya berjumpa secara online selama beberapa bulan, Doni bermaksud untuk mengunjungiku liburan semester ini. Hari ini aku datang menjemputnya.

Keretanya masih akan tiba setengah jam lagi, aku sengaja datang lebih awal agar bisa menyusun kata-kata bila nanti kami berjumpa untuk pertama kalinya. Sambil menenangkan hati, mataku menjelajah suasana di stasiun ini. Sudah berapa lama ya aku tidak pernah naik kereta api? Sejak ayahku punya mobil pribadi, kami sekeluarga tidak pernah lagi naik kereta api bila akan pulang kampung saat lebaran.   

Kondisi stasiun kini sangat berbeda dibandingkan dahulu. Menurutku sangat megah, bersih, dan bahkan hampir menyerupai terminal bandara. Tenant-tenant penjual makanan, roti, dan minuman berjajar rapi di kiri-kanan koridornya, bahkan ada kedai kopi juga. Tidak ada seorang pun pedagang asongan yang berkeliling menjajakan dagangannya, berbeda dengan waktu dulu, saat aku masih sering naik kereta api. Dahulu, stasiun kereta ramai dengan suara teriakan pedagang camilan, koran, majalah. Belum lagi teriakan para portir pengangkut barang yang sibuk menawarkan jasanya, seringkali dengan  cara yang sangat menyebalkan, memaksa para penumpang memakai jasanya dengan menari-narik tas jinjing mereka. Kalau sekarang, jasa portir telah termasuk servis dari stasiun, sehingga tidak ada lagi keributan di stasiun yang ditimbulkan oleh suara-suara mereka.

Aku berjalan menuju kedai kopi yang terletak persis di depan toilet. Toilet yang bersih dan wangi menarik-narik kakiku untuk masuk ke sana untuk sekadar membasuh muka dan menghilangkan rasa gundah di hatiku. Benar saja, usai membasuh wajah, badanku menjadi segar dan hati menjadi lebih tenang. Aku duduk di kedai kopi dan memesan secangkir kopi instan. Kutenangkan hatiku, santai semua akan berjalan dengan lancar. Doni sudah mengenal dirimu lewat foto-fotomu, jangan minder. Kalau Doni tidak menyukaimu, tidak mungkin kan dia mau mengunjungimu?

Terdengalah suara pemberitahuan melalui pengeras suara. Kereta api yang dinaiki Doni telah tiba. Aku segera mengirim pesan kepada Doni. Aku tunggu engkau di kedai kopi. Dari lorong pintu keluar, belok kanan, ada toilet. Kedai kopi berada di depan toilet. Maaf aku tidak bisa berdiri di lorong penjemputan, kakiku tidak kuat berdiri terlalu lama.

Setelah pesan terkirim, aku letakkan gawaiku di atas meja, persis di sebelah tongkat berjalanku yang kusandarkan di sana.

#ODOP_6
#KelasFiksi
#Tantangan1