Selasa, 27 November 2018
Judi
"Abangmu belum ke sini, Dek?"
"Belum. Mungkin sekalian mau habisin jualannya, Bu. "
"Kita pulang sajalah, ibu capek. Hasil jualan kita selama dua hari di pasar malam ini sudah lumayan kok. Kamu bantuin bapak beres-beres ya? Ibu mau cari abangmu."
Aku mulai mencari anakku yang tertua. Setiap ada kegiatan pasar malam di kampung sekitar, kami selalu ikut berjualan dan berbagi tugas. Aku berjualan di stand, anak tertuaku berkeliling menjajakan dagangan kami.
"Nah, itu dia." Aku melihat anakku sedang berjongkok di antara kerumunan orang. Di depannya ada sebuah meja yang di atasnya terletak tiga buah mangkok dalam posisi tertelungkup.
Aku segera menghampirinya. "Ayo Bang, kita pulang."
"Sebentar, Bu. Aku lagi main tebak-tebakan. Tadi sudah bayar dua ribu rupiah."
"Mainnya gimana itu, Bang?"
"Tiga buah mangkok itu dipindah-pindahin tempatnya. Terus aku disuruh nebak, mangkok mana yang ada bola bekelnya. Sebelum nebak, aku bayar dua ribu rupiah, Bu. Kalau tebakanku benar, aku dapat tiga ribu rupiah. Tadi aku menang sekali. Terus aku main lagi tiga kali, eh salah. Ini aku mau nyoba yang ke empat kali, Bu."
"Astaghfirullah, Bang. Itu namanya judi. Haram Bang, gak boleh. Kamu menang sekali, tapi kalah tiga kali. Bukannya untung, malah buntung. Judi itu gak bikin kita banyak uang, Nak. Tapi malah bikin sengsara. Ayo pulang, jangan diteruskan lagi. Bisa habis uang jualanmu kalau kamu di sini terus." Aku menarik tangan anakku dan segera berlalu dari tempat itu.
#ODOP_6
#onedayonepost
#kelasfiksi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Astaghfirullah
BalasHapusmantaf...
BalasHapusHaram hukumnya.
BalasHapusKejutan manis di akhir cerita, main judi rupanya. Enaknya tu judulnya yg sedikit bikin tanda tanya gitu kak. Jadi ga ketahuan dari depan misal: Mengadu untung" hehehe
BalasHapus