Rabu, 07 November 2018

PERTEMUAN PERTAMA


Sudah sepuluh menit aku berada di stasiun ini. Hatiku berdebar-debar, perutku mulai merasa mulas menghitung menit per menit menjelang pertemuan kami nanti. Apa yang nanti akan kami bicarakan? Doni dan aku, kami tidak pernah berjumpa. Awal perkenalan kami hanya melalui media sosial, Doni mengaku mengetahui diriku lewat Siska, teman kuliahku. Setelah hanya berjumpa secara online selama beberapa bulan, Doni bermaksud untuk mengunjungiku liburan semester ini. Hari ini aku datang menjemputnya.

Keretanya masih akan tiba setengah jam lagi, aku sengaja datang lebih awal agar bisa menyusun kata-kata bila nanti kami berjumpa untuk pertama kalinya. Sambil menenangkan hati, mataku menjelajah suasana di stasiun ini. Sudah berapa lama ya aku tidak pernah naik kereta api? Sejak ayahku punya mobil pribadi, kami sekeluarga tidak pernah lagi naik kereta api bila akan pulang kampung saat lebaran.   

Kondisi stasiun kini sangat berbeda dibandingkan dahulu. Menurutku sangat megah, bersih, dan bahkan hampir menyerupai terminal bandara. Tenant-tenant penjual makanan, roti, dan minuman berjajar rapi di kiri-kanan koridornya, bahkan ada kedai kopi juga. Tidak ada seorang pun pedagang asongan yang berkeliling menjajakan dagangannya, berbeda dengan waktu dulu, saat aku masih sering naik kereta api. Dahulu, stasiun kereta ramai dengan suara teriakan pedagang camilan, koran, majalah. Belum lagi teriakan para portir pengangkut barang yang sibuk menawarkan jasanya, seringkali dengan  cara yang sangat menyebalkan, memaksa para penumpang memakai jasanya dengan menari-narik tas jinjing mereka. Kalau sekarang, jasa portir telah termasuk servis dari stasiun, sehingga tidak ada lagi keributan di stasiun yang ditimbulkan oleh suara-suara mereka.

Aku berjalan menuju kedai kopi yang terletak persis di depan toilet. Toilet yang bersih dan wangi menarik-narik kakiku untuk masuk ke sana untuk sekadar membasuh muka dan menghilangkan rasa gundah di hatiku. Benar saja, usai membasuh wajah, badanku menjadi segar dan hati menjadi lebih tenang. Aku duduk di kedai kopi dan memesan secangkir kopi instan. Kutenangkan hatiku, santai semua akan berjalan dengan lancar. Doni sudah mengenal dirimu lewat foto-fotomu, jangan minder. Kalau Doni tidak menyukaimu, tidak mungkin kan dia mau mengunjungimu?

Terdengalah suara pemberitahuan melalui pengeras suara. Kereta api yang dinaiki Doni telah tiba. Aku segera mengirim pesan kepada Doni. Aku tunggu engkau di kedai kopi. Dari lorong pintu keluar, belok kanan, ada toilet. Kedai kopi berada di depan toilet. Maaf aku tidak bisa berdiri di lorong penjemputan, kakiku tidak kuat berdiri terlalu lama.

Setelah pesan terkirim, aku letakkan gawaiku di atas meja, persis di sebelah tongkat berjalanku yang kusandarkan di sana.

#ODOP_6
#KelasFiksi
#Tantangan1

13 komentar:

  1. Ga ada lanjutannya mbak? Hehw apa masih bersambung. Berharap ada lanjutannya gituπŸ˜‚

    BalasHapus
  2. aku meninggalkan jejakku di blog ini...

    BalasHapus
  3. Irit amat kakaaaak...kurang nih kalo 1200 kata. Tapi saya suka. Penggambaran stasiun kereta api nya real banget. Ya begini stasiun kereta yang sekarang. Cerita tentang tokohnya sebenernya bagus bgt, oh ternyata difable, tapi...pas uda mulai penasaran dicutt g da lanjutannya...yahhhhhh

    BalasHapus
  4. Duh pertemuan pertama bersambungg... Lanjut mbak...

    BalasHapus
  5. Kerennn lanjut lanjut ke pertemuan berikutnya ayoo πŸ˜†

    BalasHapus
  6. Penggambaran suasana stasiunnya dapet banget mba kartika 😍

    BalasHapus
  7. Penasaran sama lanjutannya. 😍

    BalasHapus
  8. Saya bukan pengguna kereta api, jadi ber 'oh' panjang baca penggambaran stasiun kereta di jaman now... πŸ™ˆπŸ˜

    BalasHapus