Sudah sepuluh menit aku
berada di stasiun ini. Hatiku berdebar-debar, perutku mulai merasa mulas
menghitung menit per menit menjelang pertemuan kami nanti. Apa yang nanti akan
kami bicarakan? Doni dan aku, kami tidak pernah berjumpa. Awal perkenalan kami
hanya melalui media sosial, Doni mengaku mengetahui diriku lewat Siska, teman
kuliahku. Setelah hanya berjumpa secara online
selama beberapa bulan, Doni bermaksud untuk mengunjungiku liburan semester ini.
Hari ini aku datang menjemputnya.
Keretanya masih akan
tiba setengah jam lagi, aku sengaja datang lebih awal agar bisa menyusun
kata-kata bila nanti kami berjumpa untuk pertama kalinya. Sambil menenangkan
hati, mataku menjelajah suasana di stasiun ini. Sudah berapa lama ya aku tidak
pernah naik kereta api? Sejak ayahku punya mobil pribadi, kami sekeluarga tidak
pernah lagi naik kereta api bila akan pulang kampung saat lebaran.
Kondisi stasiun kini
sangat berbeda dibandingkan dahulu. Menurutku sangat megah, bersih, dan bahkan
hampir menyerupai terminal bandara. Tenant-tenant
penjual makanan, roti, dan minuman berjajar rapi di kiri-kanan koridornya,
bahkan ada kedai kopi juga. Tidak ada seorang pun pedagang asongan yang berkeliling
menjajakan dagangannya, berbeda dengan waktu dulu, saat aku masih sering naik
kereta api. Dahulu, stasiun kereta ramai dengan suara teriakan pedagang
camilan, koran, majalah. Belum lagi teriakan para portir pengangkut barang yang
sibuk menawarkan jasanya, seringkali dengan cara yang sangat menyebalkan, memaksa para penumpang
memakai jasanya dengan menari-narik tas jinjing mereka. Kalau sekarang, jasa
portir telah termasuk servis dari stasiun, sehingga tidak ada lagi keributan di
stasiun yang ditimbulkan oleh suara-suara mereka.
Aku berjalan menuju
kedai kopi yang terletak persis di depan toilet. Toilet yang bersih dan wangi
menarik-narik kakiku untuk masuk ke sana untuk sekadar membasuh muka dan
menghilangkan rasa gundah di hatiku. Benar saja, usai membasuh wajah, badanku
menjadi segar dan hati menjadi lebih tenang. Aku duduk di kedai kopi dan
memesan secangkir kopi instan. Kutenangkan hatiku, santai semua akan berjalan dengan lancar. Doni sudah mengenal dirimu
lewat foto-fotomu, jangan minder. Kalau Doni tidak menyukaimu, tidak mungkin
kan dia mau mengunjungimu?
Terdengalah suara
pemberitahuan melalui pengeras suara. Kereta api yang dinaiki Doni telah tiba. Aku
segera mengirim pesan kepada Doni. Aku
tunggu engkau di kedai kopi. Dari lorong pintu keluar, belok kanan, ada toilet.
Kedai kopi berada di depan toilet. Maaf aku tidak bisa berdiri di lorong
penjemputan, kakiku tidak kuat berdiri terlalu lama.
Setelah pesan terkirim,
aku letakkan gawaiku di atas meja, persis di sebelah tongkat berjalanku yang
kusandarkan di sana.
#ODOP_6
#KelasFiksi
#Tantangan1
jadi ikut deg-degan....
BalasHapusGa ada lanjutannya mbak? Hehw apa masih bersambung. Berharap ada lanjutannya gituπ
BalasHapusaku meninggalkan jejakku di blog ini...
BalasHapuskepo nih, lanjutnya gmn?
BalasHapusIrit amat kakaaaak...kurang nih kalo 1200 kata. Tapi saya suka. Penggambaran stasiun kereta api nya real banget. Ya begini stasiun kereta yang sekarang. Cerita tentang tokohnya sebenernya bagus bgt, oh ternyata difable, tapi...pas uda mulai penasaran dicutt g da lanjutannya...yahhhhhh
BalasHapusKayaknya cerbung, ya mb?
BalasHapusSaya gugup... hahahaha
BalasHapusDuh pertemuan pertama bersambungg... Lanjut mbak...
BalasHapusKerennn lanjut lanjut ke pertemuan berikutnya ayoo π
BalasHapusPenggambaran suasana stasiunnya dapet banget mba kartika π
BalasHapusPenasaran sama lanjutannya. π
BalasHapusSaya bukan pengguna kereta api, jadi ber 'oh' panjang baca penggambaran stasiun kereta di jaman now... ππ
BalasHapusπ
BalasHapus