Selasa, 02 Oktober 2018

KETULUSAN ELISA

"Elisa gadis yang cantik, dia baik dan sabar. Apa yang kurang dari dia, Mas?"

"Aku tidak mencintainya. Itu masalahnya."

"Kau kan bisa belajar. Mencintai gadis seperti Elisa itu gampang. Dia nyaris sempurna. Semakin lama engkau mengenalnya, kau pasti akan lebih mudah mencintainya."

"Sudahlah Dik, pokoknya aku tidak mencintai Elisa. Aku sudah mempunyai kekasih dan aku sangat mencintainya, kamu tahu kan? Kalau kamu suka padanya, kamu saja yang dekati dan menikah dengan dia sekalian, jadi keinginan orangtua kita untuk berbesan dengan orangtua Elisa bisa terwujud."

Pada akhirnya, aku menikah dengan Elisa. Aku tidak mampu menolak keinginan orangtuaku. Malam pertama, kedua, dan selanjutnya tidak sedikitpun aku menyentuh Elisa. Kami tidur di kamar yang berbeda. Elisa tidak pernah mengeluh atas perlakuanku terhadapnya. Tetap saja setiap hari dia selalu memasak untukku walaupun aku tidak pernah menyentuh masakannya.

Setiap pulang kantor aku selalu mampir dulu ke cafe atau mall karena tidak ingin langsung pulang. Walaupun sampai di rumah sudah larut malam, Elisa selalu menyambutku dengan senyuman. Dia kemudian memasakkan air untuk mandiku, membuatkan teh, dan menyiapkan makan malam. Dan aku pun mandi dengan air dingin, membuat kopi sendiri, atau langsung tidur tanpa makan. Entahlah sudah berapa bulan aku bersikap buruk terhadapnya.

-----

Hari ini aku demam, badanku rasanya lemah lunglai dan sakit semua. Elisa merawatku selama berhari-hari dengan sepenuh hati. Walaupun aku terus memarahinya tapi dia tetap sabar. Hingga suatu hari saat aku bangun dan merasa sehat, aku melihat dia tidur di kursi di samping tempat tidurku. Kuamati wajahnya, mendadak timbul penyesalan di hatiku. Wanita cantik berhijab ini sangat sabar menghadapiku, dan aku telah menyia-nyiakan dirinya.

Mulai kusadari betapa jahatnya diriku, seharusnya aku memberi kesempatan terhadap hubungan kami. Aku bertekad untuk bersikap lebih baik dan membuka hatiku untuknya. Benar kata adikku, aku pasti bisa mencintai wanita selembut Elisa.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar