Sabtu, 13 Oktober 2018

RELA MENGAMPUNI

Ini kisah tentang Nila, seorang kenalanku. 
Ibu Nila menikah dengan seorang pria kaya saat masih berusia 13 tahun. Sungguh usia yang masih sangat muda untuk menjadi seorang isteri. Tapi jaman dulu memang begitulah kenyataannya.

Setahun kemudian lahirlah Nila, kemudian berturut-turut ke empat adiknya. Karena pernikahan yang terlalu muda, tidak ada keharmonisan dalam keluarganya. Baik sang suami maupun sang isteri masing-masing memiliki ego yang tinggi dan selalu mau menang sendiri. Setiap hari hanya pertengkaran yang terjadi di keluarganya. Hal ini sangat berpengaruh bagi kepribadian Nila. Nila tumbuh menjadi anak yang kasar, kaku, mau menang sendiri, dan keras hati.

Saat Nila duduk di bangku kuliah, orangtuanya bercerai. Ini merupakan pukulan yang cukup hebat baginya. Hal ini belum cukup karena setelah bercerai, Nila masih harus menahan malu di depan teman-temannya karena orangtuanya selalu berganti-ganti pasangan (nb: pacar). Puncak emosinya terjadi ketika ibunya memutuskan untuk menikah lagi dengan pria muda yang lebih pantas dipanggil abang bagi Nila. Sedangkan ayahnya setiap hari hanya berfoya-foya dengan gadis-gadis muda seumuran anaknya.  Nila protes keras,  dan memutuskan untuk tinggal dengan neneknya. Hanya itu kabar terakhir yang aku dengar sampai aku lulus kuliah. 

Suatu hari saat kami berjumpa setelah bertahun-tahun berpisah, aku sangat terkejut dengan perubahan sifatnya. Lemah lembut, penyabar, dan agamis. Hilang sudah sifat kasar dan keras hatinya dahulu.  

Ketika kami duduk mengobrol, dengan penuh rasa ingin tahu kutanyakan apa yang terjadi sehingga dia menjadi berubah dengan sangat baik sekarang ini, dia berkata "Jawabannya cuma satu, Tik. Kamu harus rela mengampuni."

"Mengampuni berarti tidak marah, apalagi mendendam. Memahami bahwa semua orang pasti berbuat salah. Ternyata dengan mengampuni, hidupku menjadi lebih damai dan aku mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain."

Nila telah bisa mengampuni segala kesalahan orangtuanya. Dia sudah merasa lega karena terbebas dari kemarahan yang bisa merusak hidupnya. Dia memilih memaafkan dengan tulus dan akhirnya bisa hidup dengan damai. 

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar