Malam ini tiba-tiba aku teringat masa-masa awal pernikahan dulu. Apa pasal? Gara-gara hari ini sampai jam sepuluh malam, aku belum menyiapkan makan malam untuk suamiku (astaga mak!) karena si kecil rewel dan suamiku juga sibuk menyelesaikan pekerjaannya di depan komputer. Aku juga lupa menyiapkan teh manis hangat untuknya.
Apakah dia marah dan bersuara keras? Alhamdulillah tidak. Dia hanya menyindir, sindirannya cukup membuatku malu hati sambil senyum-senyum sendiri.
"Dek, Kamu sudah makan malam?"
"Belum, Pak."
"Ow, ta kira sudah. Kok gak ada makanan di meja makan, ta kira karena kamu sudah kenyang."
Astaga, aku benar-benar lupa. "Maaf ya, Pak. Aku lupa. Si kecil nangis terus, sampai gak kepikiran buat makan. Sebentar ya, aku siapin makannya dulu. Kita makan sama-sama."
Beberapa saat kemudian, suamiku berkata lagi sambil tertawa, "Dek, tadi aku di meja makan, buka tutup gelas tehku, isinya kosong. Gelasnya masih gelas yang tadi pagi. Sekarang aku buka tutupnya lagi, eh masih kosong."
Aduhai... Dapat kode lagi dari suami kalau aku lalai menyiapkan teh manis hangat untuknya.
Teguran yang dilakukan oleh suamiku saat ini, dan jawaban yang aku sampaikan sangat berbeda dibandingkan saat kami baru menikah dulu. Saat masa bulan madu telah lewat, mulai masuk ke dunia nyata, di mana persoalan-persoalan kecil hingga besar mulai berdatangan, maka kesalahan sekecil apapun bisa memicu emosi dan pertengkaran.
"Deeeekkk... Tehku endi? Laopo ae se kaet mau, bojone gak diopeni. Nggosip ae mbek tonggo!" (Dek, tehku mana? Ngapain saja sih dari tadi, suaminya gak diurus. Nggosip aja sama tetangga!)
Aku pun biasanya ikut berteriak membela diri. Yang anaknya rewellah, yang repot masaklah bla bla bla.
Tapi kami berdua menjadi lebih sabar seiring dengan semakin matangnya usia pernikahan, kami berusaha menghadapi segalanya dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Apabila ada yang salah jangan ragu untuk meminta maaf. Segala sesuatu disampaikan dengan cara yang baik tanpa mengandalkan emosi. Kami berusaha agar tidak terjadi pertengkaran yang nantinya dapat mempengaruhi pernikahan, apalagi sampai mempengaruhi anak-anak.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar