Rabu, 24 Oktober 2018

Damai dengan Tetangga



Hari ini ibuku membeli banyak sekali daun pepaya dan singkong. Barusan dapat kiriman ikan teri dari abangku yang tinggal nun jauh di Sumatera sana, jadi rencananya ikan teri itu akan dimasak menjadi campuran untuk oseng-oseng daun pepaya.

Membeli bahan dengan jumlah banyak seperti itu sudah bukan pemandangan yang aneh bagiku. Daun pepaya yang kalau dimasak tersebut pasti bakal cukup untuk makan orang-orang dalam satu RT. Dan memang begitulah kenyataannya, begitu oseng-oseng pepaya matang, sibuklah ibuku mengantar-antar hasil masakannya ke seluruh tetangga. Di rumah akhirnya hanya tersisa satu piring kecil saja.

Antar mengantar masakan sudah menjadi tradisi di lingkungan perumahan ibuku. Hampir setiap hari ada saja tetangga yang mengirimkan makanan ke rumah. Mulai dari tahu dan tempe bacem, sampai spaghetti buatan sendiri. Suasana bertetangga pun terasa akrab karena mereka saling berbagi.

Kebiasaan baik yang dilakukan oleh ibuku ini akhirnya menular ke keluargaku. Aku pun sering melakukan tradisi antar mengantar makanan ke tetangga. Bahkan suamiku sering menekankan agar tidak segan untuk selalu membantu tetangga.

Pernah suatu waktu saya akan pergi membeli sesuatu ke minimarket, suami bertanya, "Memangnya di toko depan gak ada?".
"Ada, tapi harganya selisih dua ribu sama di ****mart, lagian kalo belanja di ****mart kan dapat poin, lebih untung Pak!"
"Walah Dek, cuma selisih dua ribu ae kok mbelani ke sana. Beli di depan situ ae lah, opo salahe sih ngasih untung ke tetangga. Wong ya kalo kita butuh apa-apa pasti dia yang pertama membantu kita. Memangnya ****mart mau ta nolong kita?"

Aku pun sadar bahwa yang dikatakan suamiku benar adanya. Tetanggalah orang pertama yang pasti kita mintai bantuan apabila kita sedang membutuhkan. Maka berbuat baiklah dengan tetangga, karena sejatinya merekalah saudara terdekat kita.

#Komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar