Minggu, 07 Oktober 2018

Customer Service Ala Tukang Cukur

Suamiku mempunyai tukang cukur langganan. Setiap potong rambut, maunya hanya ke dia saja. Apabila dia tidak buka hari itu, suamiku rela kembali keesokan harinya dan tidak mau mencari tukang cukur lainnya. Alasannya, tukang cukur yang lain hasil potongannya tidak sebagus langganannya. 

Suatu malam aku pernah diajak oleh suamiku. Sesampainya di sana, antrian sudah panjang, sungguh luar biasa untuk seorang tukang cukur yang membuka usahanya di bekas pos hansip di pinggir jalan. Aku jadi penasaran melihat banyaknya orang yang rela mengantri menunggu giliran. Apa hebatnya tukang cukur ini? 

Sambil menunggu giliran,  aku memperhatikan perilakunya. Orangnya sangat santun, cara bicaranya sangat menyenangkan.  Kalimat "nuwun sewu" tidak pernah lupa dia ucapkan setiap memegang kepala pelanggannya. Semua pelanggannya diajak bercerita, mulai dari masalah keluarga sampai pilpres. Suasana di sana sangat ramai karena seluruh pelanggan diajak berinteraksi dengannya.  "Saur manuk" kalau istilah Jawanya, dia melemparkan topik, para pelanggan ramai menanggapinya. 

Tidak ada satu pun dari belasan pelanggan di sana yang tidak dia ingat namanya. Bahkan dia pun ingat soal keluarga mereka.  "Oh, Mas Basuki. Lare ingkang mbajeng sak meniko UNAS nggih? Mugi-mugi diparingi kelancaran nggih, Mas!" (Mas Basuki,  anak yang sulung sekarang UNAS ya?  Semoga diberi kelancaran ya, Mas).

Pada pelanggan lain, dia menanyakan kabar ibunya. "Kadhos pundhi kabaripun ibu, Mas? Sampun medhal saking griyo sakit? Mugi-mugi diparingi sehat sak teruse nggih!" (Bagaimana kabarnya ibu, Mas? Sudah keluar dari rumah sakit? Semoga diberi kesehatan terus ya!)

Jadi, begitulah cara dia mempertahankan pelanggan. Dengan memperlakukan mereka secara istimewa, menciptakan keakraban laksana keluarga, sehingga mereka pun menjadi sangat loyal terhadapnya. 

#Komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar