Sabtu, 29 September 2018

REUNI

Aku sedang mengenakan sepatu ketika Rani datang menjemputku dengan taksi tepat jam setengah tujuh malam ini. Hari ini adalah acara reuni fakultas yang diadakan di salah satu hotel berbintang di kotaku.  Sudah limabelas tahun sejak lulus dari bangku kuliah, dan selama itu aku jarang berhubungan dengan bekas teman kuliahku. Aku sebenarnya malas hadir, tapi Rani memaksa karena dia sudah terlanjur datang jauh-jauh dari Medan hanya untuk menghadiri acara ini. Dia bahkan sudah membayar uang partisipasi atas namaku. Suamiku pun sudah mengijinkan, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk menolak hadir di acara ini. 

Sepanjang perjalanan menuju tempat acara, Rani terus berkicau. Dia sangat bersemangat untuk menghadiri acara ini. "Eh, si Mita kayak apa ya sekarang? Apa masih cantik seperti dulu ya?"
"Eh, si Bagus nikah sama siapa ya? Aku dulu naksir berat lo sama dia. Nanti dia datang gak ya? Penampilannya gimana ya sekarang?"

Sedangkan aku hanya diam, tersenyum, sesekali menjawab "Entah", sambil merasakan perutku yang mulai merasa tidak nyaman karena sesungguhnya aku tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk hadir di acara ini. 

Setibanya di tempat acara, aku langsung mengambil duduk di barisan paling belakang. Rina sudah terbang entah kemana. Tiba-tiba aku merasa  minder kalau harus bertemu dengan bekas teman-teman kuliah dulu. Mereka melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Gerakan tubuh, gaya bicara, kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut mereka menunjukkan kalau kesuksesan materi telah mereka capai setelah lima belas tahun meninggalkan bangku kuliah. 

Aku berusaha menghindar ketika ada teman yang mulai mengajakku berbicara banyak, terutama kalau mereka mulai menanyakan keluargaku. Apa yang bisa kubanggakan?  Aku hanya seorang ibu rumah tangga, suamiku seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil, anakku empat. Aku tinggal di rumah kontrakan kecil yang hanya berkamar dua, dan karenanya suami dan anak sulungku selalu tidur di ruang tamu, yang merangkap sebagai ruang keluarga, ruang belajar, dan ruang makan. 

Hidupku kelihatan payah bila dibandingkan dengan mereka semua. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Akhirnya aku putuskan untuk pulang sebelum waktunya. Kutelepon Rina dan pamit pulang terlebih dahulu dengan alasan perutku sakit.

Sesampainya di rumah, aku lihat suamiku sudah duduk di sofa sambil menikmati semangkuk mie instant. Terkejut dia melihatku muncul, padahal baru satu jam yang lalu aku pergi. Dengan alasan kepala pusing, aku langsung masuk kamar. Suamiku kemudian menyusul. "Kenapa? Mukamu kok muram begitu?" Aku tidak menjawab. Hatiku mendadak jengkel melihat dia. Mengapa dia tidak bisa memberikan harta yang lebih banyak untuk keluarganya? Seandainya kami orang kaya, aku tentu tidak akan merasa minder berkumpul dengan teman-temanku.

Tidak mendapat jawaban, suamiku akhirnya ke luar kamar. Aku kembali tiduran sambil menahan tangis akibat hatiku yang kecewa. Beberapa saat kemudian, suamiku datang. Kali ini dia masuk sambil membawa semangkuk mie instant rebus, uapnya masih mengepul. Aromanya menggelitik perutku yang memang belum sempat makan karena terburu-buru meninggalkan acara reunian tadi.

"Ini aku buatin mie rebus. Kamu pasti gak makan kan? Mienya aku masak sendiri, sesuai dengan kesukaanmu. Pakai sawi hijau, telur, dan irisan cabe rawit. Biar masakannya gak sehebat katering di acaramu tadi, tapi rasanya pasti lebih enak. Bikinnya pakai cinta lo..."

Hatiku langsung meleleh melihat senyum tulus di wajah suamiku. Sungguh sabar dirinya menghadapi isterinya yang sedang uring-uringan. Ya Allah, sungguh besar dosaku hari ini. Bisa-bisanya aku membandingkan suamiku dengan orang lain.  Kami tidak bergelimang harta, tapi kami kaya akan ilmu agama. Suamiku adalah imam yang sempurna untukku dan anak-anakku. Aku harusnya bersyukur, bukannya mencela. Maafkan aku ya, Pak? 

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#TANTANGANODOP3
#Fiksi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar