Minggu, 09 September 2018

MUBARRAK YANG JUJUR


Selamat malam, Teman. Kali ini saya akan membagikan kisah tentang kejujuran seorang muslim yang akhirnya berbuah manis.

Alkisah hiduplah seorang budak bernama Mubarak. Pria ini ditugasi untuk menjaga dan merawat kebun delima oleh tuannya. Bertahun-tahun lamanya dia bekerja dengan giat di kebun tersebut.

Pada suatu hari, sang tuan datang memeriksa kebunnya. Setelah bertemu dengan Mubarak dan berbincang-bincang sejenak mengenai kondisi kebunnya, sang majikan meminta Mubarak untuk memetikkan satu buah delima yang manis.

Mubarak pun mengambilkan sebuah delima. Sang majikanpun mencicipinya, tapi hatinya tidak berkenan,”Ini tidak manis, Mubarak. Ambilkan satu lagi.”
Mubarak mengambil sebuah lagi. Lagi-lagi sang majikan tidak berkenan, dan menegurnya dengan nada kecewa,”Ini juga masam. Carikan buah yang manis!”

Mubarak mengambilkan buah yang ke tiga. Kali ini sang majikan kembali kecewa dan mulai marah, “Ini masam, Mubarak. Bagaimana kamu ini, bertahun-tahun kamu menjaga dan merawat kebunku. Mengapa kamu tidak bisa membedakan buah delima yang manis dengan yang masam?”

“Maaf, Tuan. Tapi saya memang tidak dapat membedakannya. Sebab saya tidak pernah mencicipinya.”

Mendengar jawaban dari Mubarak, sang majikan langsung merasa heran,”Kau tidak pernah mencicipi buah ini? Padahal sudah bertahun-tahun kau menjaga kebun ini.”

“Benar, Tuan. Tuan menugaskan aku untuk menjaga dan merawat kebun delima ini. Bukan menugaskan aku untuk mencicipinya. Maka dari itulah aku tidak berani mencicipinya walaupun hanya sebuah saja.”   

Sang majikan luluh hatinya. Hilang sudah amarahnya Dia sangat kagum terhadap kejujuran Mubarak. Belum pernah dia menemui orang yang sangat jujur dan amanah seperti penjaga kebun yang ada di hadapannya saat ini.

Sang majikan akhirnya berusaha menguji pemikiran sang budak. “Wahai Mubarrak. Aku mempunyai seorang putri yang belum menikah. Menurutmu atas dasar apa aku memilih menantu untuk putriku itu?”

Mubarrak menjawab,”Orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya berdasarkan keturunan. Golongan lain ada yang menikahkan putrinya atas dasar harta kekayaan. Ada juga yang menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Kita adalah orang-orang muslim, maka sepantasnya kita menikahkan putri kita atas dasar agama.”

Sang majikan merasa sangat kagum akan kecerdasan Mubarrak. Akhirnya tak lama kemudian, Mubarrak dibebaskan dari status sebagai budak, dan dinikahkan dengan putrinya.

Demikianlah, kejujuran itu terkadang pahit di awal, akan tetapi selalu manis di akhir. Karena kejujurannya, Mubarrak berhasil mengangkat hidupnya, terbebas dari status budak, dan menemukan jodohnya.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar