Selamat
malam, Teman. Kali ini saya akan membagikan kisah tentang kejujuran seorang
muslim yang akhirnya berbuah manis.
Alkisah
hiduplah seorang budak bernama Mubarak. Pria ini ditugasi untuk menjaga dan
merawat kebun delima oleh tuannya. Bertahun-tahun lamanya dia bekerja dengan
giat di kebun tersebut.
Pada
suatu hari, sang tuan datang memeriksa kebunnya. Setelah bertemu dengan Mubarak
dan berbincang-bincang sejenak mengenai kondisi kebunnya, sang majikan meminta
Mubarak untuk memetikkan satu buah delima yang manis.
Mubarak
pun mengambilkan sebuah delima. Sang majikanpun mencicipinya, tapi hatinya
tidak berkenan,”Ini tidak manis, Mubarak. Ambilkan satu lagi.”
Mubarak
mengambil sebuah lagi. Lagi-lagi sang majikan tidak berkenan, dan menegurnya
dengan nada kecewa,”Ini juga masam. Carikan buah yang manis!”
Mubarak
mengambilkan buah yang ke tiga. Kali ini sang majikan kembali kecewa dan mulai marah,
“Ini masam, Mubarak. Bagaimana kamu ini, bertahun-tahun kamu menjaga dan
merawat kebunku. Mengapa kamu tidak bisa membedakan buah delima yang manis
dengan yang masam?”
“Maaf,
Tuan. Tapi saya memang tidak dapat membedakannya. Sebab saya tidak pernah
mencicipinya.”
Mendengar
jawaban dari Mubarak, sang majikan langsung merasa heran,”Kau tidak pernah
mencicipi buah ini? Padahal sudah bertahun-tahun kau menjaga kebun ini.”
“Benar,
Tuan. Tuan menugaskan aku untuk menjaga dan merawat kebun delima ini. Bukan menugaskan
aku untuk mencicipinya. Maka dari itulah aku tidak berani mencicipinya walaupun
hanya sebuah saja.”
Sang
majikan luluh hatinya. Hilang sudah amarahnya Dia sangat kagum terhadap
kejujuran Mubarak. Belum pernah dia menemui orang yang sangat jujur dan amanah
seperti penjaga kebun yang ada di hadapannya saat ini.
Sang
majikan akhirnya berusaha menguji pemikiran sang budak. “Wahai Mubarrak. Aku mempunyai
seorang putri yang belum menikah. Menurutmu atas dasar apa aku memilih menantu
untuk putriku itu?”
Mubarrak
menjawab,”Orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya berdasarkan keturunan. Golongan
lain ada yang menikahkan putrinya atas dasar harta kekayaan. Ada juga yang
menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Kita adalah orang-orang muslim, maka
sepantasnya kita menikahkan putri kita atas dasar agama.”
Sang
majikan merasa sangat kagum akan kecerdasan Mubarrak. Akhirnya tak lama
kemudian, Mubarrak dibebaskan dari status sebagai budak, dan dinikahkan dengan
putrinya.
Demikianlah,
kejujuran itu terkadang pahit di awal, akan tetapi selalu manis di akhir. Karena
kejujurannya, Mubarrak berhasil mengangkat hidupnya, terbebas dari status
budak, dan menemukan jodohnya.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar