Kamis, 13 September 2018

Emak dari Antah Berantah


Alkisah ada seorang emak dari negeri Antah Berantah datang ke kampungku ini. Penyebab si Emak datang ke sini adalah karena ada saudaranya yang sedang tertimpa kemalangan, sang imam telah pergi mendahuluinya.

Si Emak tiba di kampungku bersama segala asesorisnya. Mulai dari leher, telinga, tangan, hingga jari-jemarinya penuh dengan perhiasan bling-bling yang menyilaukan mata. Dia datang bersama pengawalnya, menaiki kereta kencana keluaran terbaru. Mengenakan  pakaian indah penuh mutiara, hingga sepatu bertahtakan kristal dan batu mulia. Cipika-cipiki berbasa-basi kepada sang saudara dan seluruh anggota keluarganya, kemudian mulai mengatur-atur laksana ratu. Tumpengnya harus begini, bunga taburnya harus begono, untuk keperluan tahlilan nanti malam, dipesankannyalah masakan dari katering ternama. Emak bling-bling mengeluarkan segepok uang di hadapan para pelayat sambil bersuara keras, "Ini uang dari saya untuk mengurus segalanya. Kalau uang ini masih kurang, silahkan bilang, saya yang akan membayarnya."

Para pelayat memandangi si Emak dengan penuh rasa kagum dan hormat. "Sungguh dermawan nyonya ini, semua keperluan pemakaman telah ditanggung olehnya. Semoga amal baiknya diterima oleh Allah." Alhamdulillah pemakaman hari itu dan tahlilan di malam harinya berlangsung lancar. Emak bling-bling tersenyum puas, seluruh pelayat dan anggota pengajian menyalaminya dengan penuh rasa hormat. Sang saudara dan keluarga tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena telah dibantu sedemikian rupa. Emak bling-bling akhirnya pulang kembali ke negerinya.    

Satu bulan setelah pemakaman, saudara si Emak bling-bling datang ke rumahku. Apa tujuannya? Ternyata beliau hendak meminjam uang. Uang itu akan dia pergunakan untuk melunasi hutang atas biaya pemakaman dan tahlilan suaminya.

"Lho, bukannya saudara ibu yang telah menanggung semua biaya pemakaman hingga tahlilannya?" Aku bertanya dalam keheranan.
"Aku kira juga begitu. Ternyata kemarin dia datang memberikan daftar berisi perincian atas semua biaya yang telah dia keluarkan untuk pemakaman dan tahlilan. Dia menganggap itu sebagai hutang dan memintaku untuk segera melunasinya."

Ya Allah, ternyata ketulusan yang dia tunjukkan kemarin itu hanya sandiwara!

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6


Tidak ada komentar:

Posting Komentar