Alkisah ada seorang emak dari negeri Antah Berantah
datang ke kampungku ini. Penyebab si Emak datang ke sini adalah karena ada
saudaranya yang sedang tertimpa kemalangan, sang imam telah pergi
mendahuluinya.
Si
Emak tiba di kampungku bersama segala asesorisnya. Mulai dari leher, telinga,
tangan, hingga jari-jemarinya penuh dengan perhiasan bling-bling yang menyilaukan mata. Dia datang bersama pengawalnya, menaiki
kereta kencana keluaran terbaru. Mengenakan pakaian indah penuh mutiara, hingga sepatu
bertahtakan kristal dan batu mulia. Cipika-cipiki
berbasa-basi kepada sang saudara dan seluruh anggota keluarganya, kemudian
mulai mengatur-atur laksana ratu. Tumpengnya harus begini, bunga taburnya harus
begono, untuk keperluan tahlilan nanti malam, dipesankannyalah masakan dari katering
ternama. Emak bling-bling
mengeluarkan segepok uang di hadapan para pelayat sambil bersuara keras,
"Ini uang dari saya untuk mengurus segalanya. Kalau uang ini masih kurang,
silahkan bilang, saya yang akan membayarnya."
Para pelayat memandangi si Emak dengan penuh rasa kagum
dan hormat. "Sungguh dermawan nyonya ini, semua keperluan pemakaman telah
ditanggung olehnya. Semoga amal baiknya diterima oleh Allah."
Alhamdulillah pemakaman hari itu dan tahlilan di malam harinya berlangsung
lancar. Emak bling-bling tersenyum
puas, seluruh pelayat dan anggota pengajian menyalaminya dengan penuh rasa
hormat. Sang saudara dan keluarga tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih
karena telah dibantu sedemikian rupa. Emak bling-bling
akhirnya pulang kembali ke negerinya.
Satu bulan setelah pemakaman, saudara si Emak bling-bling datang ke rumahku. Apa tujuannya?
Ternyata beliau hendak meminjam uang. Uang itu akan dia pergunakan untuk melunasi
hutang atas biaya pemakaman dan tahlilan suaminya.
"Lho, bukannya saudara ibu yang telah menanggung
semua biaya pemakaman hingga tahlilannya?" Aku bertanya dalam keheranan.
"Aku kira juga begitu. Ternyata kemarin dia datang
memberikan daftar berisi perincian atas semua biaya yang telah dia keluarkan
untuk pemakaman dan tahlilan. Dia menganggap itu sebagai hutang dan memintaku
untuk segera melunasinya."
Ya Allah, ternyata ketulusan yang dia tunjukkan kemarin
itu hanya sandiwara!
#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar