Selasa, 11 September 2018

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

"Ini Bu, bayinya ibu Wulan. Sehat dan cantik seperti ibunya. Kasihan, masih kecil begini sudah ditinggal oleh ibunya."
Kugendong bayi Wulan dengan hati-hati. Kuraih tangan mungilnya, kuciumi pipinya. Aku langsung jatuh cinta padanya sejak pertemuan pertama ini. Luar biasa cantik bayi ini, tidurnya sangat tenang. Dia tidak mengerti bahwa ibunya baru saja meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Wulan teman karibku sejak SMP. Dia berasal dari keluarga tidak mampu, orangtuanya meninggal saat dia masih kecil, dan dia besar dalam asuhan neneknya. Wulan anak yang baik, sikapnya yang dewasa menjadikan dia seperti kakak bagiku walaupun kami seusia. Orangtuaku juga sangat menyayanginya, kalau hendak jalan-jalan, pasti Wulan diajak turut serta. Maka jadilah kami seperti kakak beradik yang selalu bersama.

Persahabatan kami mulai mengalami kerenggangan saat kami duduk di bangku SMA. Wulan anak yang populer di sekolah. Dia cantik, pandai, dan walaupun bukan dari keluarga kaya, semua orang pasti menyukainya karena sifatnya yang penuh kasih. Sedangkan aku? Tersisih jauh di belakangnya. Aku berusaha menghindar darinya, tapi dia dengan sabar selalu berusaha mendekatiku. Semakin dia mendekatiku, aku semakin benci padanya.

Puncak kebencianku pada Wulan terjadi saat aku kelas tiga SMA. Menjelang ujian kelulusan, ibuku memanggil seorang guru les privat untuk mengajariku. Mas Lutfi, aku langsung jatuh hati padanya pada pertemuan pertama kami. Dia seorang mahasiswa semester lima. Wajahnya tidak setampan Randy, bintang basket di sekolahku. Tapi sinar matanya yang teduh, dan sikapnya yang sabar, mampu melelehkan hatiku. Hatiku berbunga-bunga setiap hari, tidak sabar menantikan saat les tiba.

Suatu hari terjadi pertemuan tidak sengaja antara mas Lutfi dan Wulan. Pertemuan itu menautkan hati mereka, mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Aku tidak pernah memaafkan Wulan sejak saat itu, walaupun dia berkali-kali memohon maaf, aku tidak pernah menerimanya.

Dan sekarang, anak Wulan dan Mas Lutfi tidur dengan nyaman di gendonganku. Wulan meninggal karena komplikasi saat melahirkan, menyusul mas Lutfi yang meninggal dua bulan yang lalu akibat kecelakaan. Ternyata, aku langsung jatuh cinta kepada anak mereka, cinta selayaknya ibu saat pertama kali memandang anak yang baru dilahirkannya.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6


Tidak ada komentar:

Posting Komentar