Rabu, 05 September 2018

CINTA MILIK DIAN


“Aku sudah capek, Dian. Ini sudah kesekian kalinya kamu menolak untuk menemaniku pergi ke acara kantorku karena kamu selalu sibuk mengurus anak-anak panti. Bulan lalu kamu tidak mau ikut karena sebagian besar dari mereka sakit. Sekarang kamu tidak mau ikut lagi karena ada yang sakit lagi. Sebenarnya kamu itu mencintaiku atau tidak?”
“Kenapa kamu masih bertanya, Mas? Bukankah sudah kukatakan berulang kali kalau aku sangat mencintaimu?”
“Tapi tidak sebesar cintamu kepada anak-anak panti itu, ya kan?”
“Aku selalu menjadi urutan ke sekian di hatimu. Bagimu hanya anak-anak itu yang menjadi prioritas. Aku bukan siapa-siapa. Terserah kamulah, aku capek.” Hendra pergi meninggalkan Dian dengan penuh amarah. Dian hanya terdiam, memandangi punggung Hendra sambil menyeka air matanya.

-------

“Aku masih memberimu kesempatan, Dian,” ujar Hendra pada suatu sore.
“Kalau kau memang benar-benar mencintaiku, tinggalkan mereka!”

“Tolong mengertilah, Mas. Mengurus mereka adalah sumber kebahagiaan dalam hidupku. Bersama dengan mereka, aku merasa punya arti lebih. Aku berjanji akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu, tapi tolong jangan suruh aku meninggalkan anak-anak panti. Mereka membutuhkan aku, Mas, dan aku membutuhkan mereka, sama seperti aku juga membutuhkanmu di sisiku.”

Please Dian, apakah tidak ada pengurus panti yang lain? Kenapa harus kamu yang paling repot? Waktumu tidak akan pernah cukup untuk mengurus mereka, dan waktumu tidak akan pernah bersisa untukku.”

Hendra menyambung pembicaraannya,”Aku sudah membeli tiket ke Jakarta untuk kita berdua. Kau akan kukenalkan dengan keluarga besarku, kemudian kita akan membicarakan tentang rencana pernikahan. Setelah menikah, kita akan tinggal di Jakarta bersama dengan kedua orangtuaku.”

“Ingat, kereta berangkat dua hari lagi, pukul 12.45. Maaf aku tidak bisa menjemputmu, aku tunggu kamu di stasiun, jangan sampai terlambat.”

-----

Dua hari kemudian.....

“Anak-anak, sekarang sudah hampir jam 12.00, sudah masuk waktu Duhur, yuk kita salat berjamaah. Selesai salat, kita mengaji bersama ya?” Dian menggiring anak-anak menuju musala yang terletak di depan panti.

Usai salat, Dian mengaji bersama anak-anak. Butiran airmata jatuh membasahi mukenanya. Hatinya pasrah kepada Allah. Dian telah memilih untuk memberikan cinta sejatinya kepada anak-anak di panti asuhan ini, sementara di kejauhan suara kereta api menuju Jakarta terdengar sayup-sayup di telinganya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6  


1 komentar: