“Aku sudah
capek, Dian. Ini sudah kesekian kalinya kamu menolak untuk menemaniku pergi ke
acara kantorku karena kamu selalu sibuk mengurus anak-anak panti. Bulan lalu
kamu tidak mau ikut karena sebagian besar dari mereka sakit. Sekarang kamu
tidak mau ikut lagi karena ada yang sakit lagi. Sebenarnya kamu itu mencintaiku
atau tidak?”
“Kenapa kamu
masih bertanya, Mas? Bukankah sudah kukatakan berulang kali kalau aku sangat
mencintaimu?”
“Tapi
tidak sebesar cintamu kepada anak-anak panti itu, ya kan?”
“Aku
selalu menjadi urutan ke sekian di hatimu. Bagimu hanya anak-anak itu yang
menjadi prioritas. Aku bukan siapa-siapa. Terserah kamulah, aku capek.” Hendra pergi
meninggalkan Dian dengan penuh amarah. Dian hanya terdiam, memandangi punggung
Hendra sambil menyeka air matanya.
-------
“Aku
masih memberimu kesempatan, Dian,” ujar Hendra pada suatu sore.
“Kalau
kau memang benar-benar mencintaiku, tinggalkan mereka!”
“Tolong
mengertilah, Mas. Mengurus mereka adalah sumber kebahagiaan dalam hidupku. Bersama
dengan mereka, aku merasa punya arti lebih. Aku berjanji akan lebih banyak
meluangkan waktu untukmu, tapi tolong jangan suruh aku meninggalkan anak-anak
panti. Mereka membutuhkan aku, Mas, dan aku membutuhkan mereka, sama seperti
aku juga membutuhkanmu di sisiku.”
“Please Dian, apakah tidak ada pengurus
panti yang lain? Kenapa harus kamu yang paling repot? Waktumu tidak akan pernah
cukup untuk mengurus mereka, dan waktumu tidak akan pernah bersisa untukku.”
Hendra
menyambung pembicaraannya,”Aku sudah membeli tiket ke Jakarta untuk kita
berdua. Kau akan kukenalkan dengan keluarga besarku, kemudian kita akan
membicarakan tentang rencana pernikahan. Setelah menikah, kita akan tinggal di
Jakarta bersama dengan kedua orangtuaku.”
“Ingat,
kereta berangkat dua hari lagi, pukul 12.45. Maaf aku tidak bisa menjemputmu,
aku tunggu kamu di stasiun, jangan sampai terlambat.”
-----
Dua
hari kemudian.....
“Anak-anak,
sekarang sudah hampir jam 12.00, sudah masuk waktu Duhur, yuk kita salat
berjamaah. Selesai salat, kita mengaji bersama ya?” Dian menggiring anak-anak
menuju musala yang terletak di depan panti.
Usai
salat, Dian mengaji bersama anak-anak. Butiran airmata jatuh membasahi
mukenanya. Hatinya pasrah kepada Allah. Dian telah memilih untuk memberikan
cinta sejatinya kepada anak-anak di panti asuhan ini, sementara di kejauhan
suara kereta api menuju Jakarta terdengar sayup-sayup di telinganya.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
nice story
BalasHapus