Minggu, 02 Desember 2018

Sahabat Sejati


Joni sudah duduk berjam-jam di bangku itu. Pandangannya tampak kosong menatap di kejauhan. Wajahnya tampak lelah, berhari-hari dia hanya duduk menangisi nasib buruknya.  Sekarang rasanya kering sudah airmatanya, tak sanggup lagi dia menangis.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bangkrut gara-gara penipu itu. Hutangku menumpuk. Kekasihku pergi meninggalkanku, membatalkan rencana pernikahan kami. Semua orang yang aku anggap teman, telah lari menjauh karena aku tidak kaya lagi. Hidupku sudah tak berguna," Joni mengeluh dalam hati.

Tiba-tiba, Joni merasakan bahunya disentuh oleh seseorang. Dia menoleh ke belakang, Bram, sahabat masa kecilnya, sedang tersenyum kepadanya. Senyuman yang paling tulus yang pernah dilihat sejak Joni mengalami kebangkrutan. "Ayo, Jon. Bangkitlah, jangan terpuruk begini. Masih ada aku, sahabatmu, yang akan selalu menemanimu. Lupakan kesedihanmu, mulailah hidup yang baru lagi."

Joni merasa malu. Bertahun-tahun dia merasa mempunyai banyak teman, tapi di saat jatuh ternyata sahabat sejatinya cuma Bram. Seorang sahabat masa kecil yang kekasihnya telah direbut oleh Joni demi kepuasan duniawi belaka.

#kelasfiksiodop
#ODOP_6

Semangat!


"Habis gajian kok masih merengut? Kurang ya? Minta tambah dong sama si bos!"Tia, rekan sekantorku, menjawil pipiku sambil tertawa. Tak ayal aku pun ikut tertawa kecut.

Dasar si Tia, sudah tahu gajiku cuma numpang lewat, masih digodain lagi. Jelas saja aku merengut, lha gaji ini begitu sampai rumah sudah langsung habis untuk bayar aneka tagihan dan keperluan si kecil. Gaji suami pun sama, begitu diterima, sudah habis buat bayar cicilan rumah dan sepeda motor. Kapan bisa hidup enak tanpa mikirin tagihan dan hutang ya?

"Hush, jangan kebanyakan merengut, nanti cepat tua lo. Sekarang bersyukur, yang sabar. Rejeki itu Allah yang atur, tinggal usaha kita aja, sudah maksimal belum menjemput rejeki dariNya," Tia berbicara sambil duduk di depanku.

"Kamu harus bersyukur, biar gaji kecil tapi keluargamu selalu diberi kesehatan. Bayangin kalo kamu seperti si bos. Banyak duit, tapi setiap bulan harus kontrol ke Singapura karena penyakitnya. Hayo, pilih yang mana?"

"Udah ah, senyum, semangat. Malu tuh sama kucing di luar!" Tia tertawa sambil mengangkat tangannya. Aku pun tertawa sambil ikut berseru,"Semangaatt!!"

#kelasfiksiodop
#ODOP_6

Keder


"Katanya mau ngomong sesuatu, kok malah diam?"
"Engg...  Sudah makan, Dik?"
"Kalau mau ngajak makan di luar, telat. Sekarang sudah jam delapan, aku sudah makan malam."
"Engg...  Tadi di kampus pelajarannya apa?"
"Percuma kukasih tahu, Mas Eko memangnya ngerti?"
"Bapak sama ibumu mana, Dik?"
"Ada di kamar, mau aku panggilin?"
"Eh, jangan, Dik. Gak usah. Mas Eko mau pulang, tolong dipamitkan ya nanti?"
"Oke, hati-hati di jalan. Jangan melamun!"

Haduuuhhh....  Gagal lagi mau bilang kalau aku suka sama Kayla. Lihat wajahnya aja aku langsung keder, mana galak begitu. Kayaknya aku harus jadi pawang ular dulu deh, biar nanti berani menghadapi Kayla.

#kelasfiksiodop
#ODOP_6

Pergilah

Hatiku sudah mati, rasanya tak perlu kau memohon lagi. Tak perlulah kau menangis lagi, biarpun sampai tuntas air matamu,
tak kan mampu menghapus sakit hatiku.

Pergi dan hiduplah kau dengannya, kekasih hati yang dulu kucinta. Kuberharap kalian tak pernah muncul lagi, hanya akan membangkitkan luka di hati.

Di atas bukit gersang, matahari menantang, aku berdiri. Berteriak keras bersama deru angin. Kalian pencemar cinta suci, tertawalah di atas deritaku. Biarkan aku sendiri saat ini, mengobati perihnya irisan hati.

Saat senja tiba, aku berikrar. Kelak aku akan bernyanyi. Kesedihan ini hanya cerita lampau, suka berganti dengan nyanyian burung pagi dan mekarnya bunga berseri.

#kelasfiksiodop
#ODOP_6
#tantangan prolis