Selasa, 09 Oktober 2018

KASIH IBU


"Riris, panggil mbak Endah, ayo berangkat, nanti ditinggal kereta lo!" Ibu berseru memanggilku yang masih berada di dalam kamar. 

Hari ini untuk pertama kalinya aku pergi dari rumah ini, meninggalkan ibu dan kakakku, karena setelah menjadi sarjana akhirnya aku diterima bekerja di kota lain. Perasaan senang dan sedih bercampur aduk di dalam hati. Senang karena aku bisa hidup mandiri. Sedih karena harus berpisah dengan orang-orang terkasihku, terutama mbak Endah. 

Mbak Endah adalah satu-satunya kakakku. Dia belum menikah, dan seperti yang selalu dia katakan kepadaku, dia tidak akan pernah menikah. Dia sangat menyayangiku. Apapun akan dia lakukan, terutama untuk kebahagiaanku. 

Sejak bapakku meninggal, dialah tulang punggung keluarga kami. Bekerja membanting tulang tak kenal lelah, hanya untuk mencukupi kebutuhanku dan membuatku bahagia. Hingga akhirnya aku bisa lulus dan menjadi sarjana, itu semua berkat kerja keras mbak Endah. Aku pun sangat menyayanginya, bahkan rasa sayangku kepadanya melebihi rasa sayangku kepada ibuku. 

Dan hari ini mbak Endah menangis tersedu-sedu sambil melepas keberangkatanku di stasiun kereta api. Aku berjanji akan pulang setiap liburan tiba, kami saling berpelukan sambil menangis. Kulambaikan tanganku dari pintu kereta, hingga bayangan mbak Endah tidak tampak lagi. 

------
"Riris sekarang sudah besar, sudah saatnya kamu cerita siapa dirimu sebenarnya," Ibu berkata sambil memegang tanganku. 

"Nanti lah Bu, Endah belum siap. Kalau Riris menolak kenyataannya bagaimana?"

"Menolak bahwa sebenarnya kamulah orangtua kandungnya, bukan ibu? Riris harus terima kenyataan ini, dia harus tahu cerita sebenarnya. Kamu itu ibu yang bertanggungjawab, Riris tidak punya alasan untuk menolakmu."

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar