Selasa, 18 September 2018

Kekasih Sempurna

Dewa sedang mengobrol dengan Meta di kantin kampus saat gawainya tiba-tiba berbunyi lirih. Ada pesan masuk. Dewa melirik sekilas ke layarnya. Pesan dari Magda, kekasihnya. 

"Kok dilirik aja, dibuka dong. Mungkin dari Magda," Meta menegur Dewa. 

"Memang dari Magda, tapi aku malas mau baca isinya. Biarin ajalah!"

"Lho, kok?" Meta tidak jadi melanjutkan perkataannya. Bukan urusannya, mungkin Dewa dan Magda sedang bertengkar. Meta tidak mau ikut campur. 

----------

"Assalamualaikum, Dewa. Maaf aku telepon. Tadi siang aku WA kamu, tapi gak kamu gak baca. Sibukkah di kampus?" Magda menelepon Dewa sore harinya saat Dewa sedang tiduran di kamar kosnya. 

"Iya, aku sibuk. Seharian di perpustakaan kampus, belajar dan ngerjain tugas. Kamu ada perlu apa telepon?" Dewa menjawab dengan malas-malasan. 

"Oh, sibuk ya? Gak kenapa-kenapa kok. Tadi mau minta tolong sesuatu, tapi kalau kamu sibuk ya sudah gak apa-apa. Aku gak mau ngerepotin kamu. Sudah ya, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Dewa langsung memutuskan telepon dan melempar gawainya ke atas kasur. Dewa merenung di dalam kamarnya. Sudah lama dia memendam perasaan ini. Semakin lama dia semakin merasa bosan akan hubungannya dengan Magda. Teman-temannya sering merasa iri terhadap mereka berdua. Sebagai sepasang kekasih, mereka hampir sempurna. Dewa tampan, Magda cantik. Mereka tidak pernah bertengkar. Magda selalu dipuji oleh teman-teman Dewa sebagai kekasih yang penuh pengertian. Dia tidak pernah menuntut apapun dari Dewa. Semua tindakan Dewa selalu diiyakan, tanpa ada protes sedikitpun. 

Tapi, lama kelamaan Dewa bosan dengan hubungan seperti ini. Dewa merasa hubungannya hanya berjalan satu arah, apapun tindakannya, Magda pasti mengiyakan. Tidak ada umpan balik, tidak ada sharing. Magda selalu menurut, tidak pernah menuntut. Kata teman-temannya, hal itu dilakukan karena Magda sangat mencintainya. Tapi Dewa ingin lebih, dia ingin kekasih yang bisa diajak berbagi pendapat, dia ingin ada yang menegur bila dia berbuat kesalahan. Dia tidak ingin kekasih yang penurut, apa bedanya dengan boneka? 

"Besok aku akan mengajak Magda bicara. Aku akan bilang tentang perasaanku sesungguhnya, bahwa aku butuh teman untuk sharing, bukan boneka hidup yang bisanya hanya manggut-manggut mengiyakan."

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar